Kisah Kian Santang

Diposting oleh Aries pada 22:28, 12-Mei-13 • Di: Cerita Bebas

Assalamu alaikum wr.wb.

Kali ini saya akan memposting cerita rakyat berjudul Kian Santang

12513rks.jpg

gambar hanya ilustrasi

Kian santang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap. Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kian satang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua. Konon, Raden Kian santang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang kesatria sejati, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.

Diriwayatkan, Prabu Kian santang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal dia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon pada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat. Untuk memenuhi permintaan puteranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan puteranya, Prabu Kian santang. Usaha tersebut hanya sia-sia saja. Tak seorangpun di antara para ahli nujum itu yang bisa menunjukkan orang yang mampu menunjukkan di mana gerangan orang yang bisa mengalahkan Raden Kian santeng. Seluruh yang hadir di keraton hanya bingung. Untunglah, kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari.

Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kian santang ada di Tanah Suci Mekkah. Jauh sekali dari tanah Pasundan. Namanya Sayyidina Ali. “Aku ingin bertemu dengannya?” Tukas Raden Kian santang. “Untuk bisa bertemu denganya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.

Syarat-syarat tersebut, adalah: Pertama, harus mujasmedi dahulu di ujung kulon, atau ujung Barat tanah Pasundan. Kedua, harus berganti nama menjadi Galantrang Setra Galantrang artinya berani dan Setra artinya suci. Mungkin maksudnya keberanian bertarung harus dilandasi kesucian hati. Bukan main gembiranya Prabu Kian santang mendengar kabar ini. Begitu pula semua yang hadir waktu itu. Suasana hening berubah menjadi cair kembali.

Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Prabu Kian santang memakai nama baru, Galantrang Setra. Setelah itu dia pergi ke ujung kulon untuk mujasmedi agar Sang Hyang Widhi Wasa memberikan kekuatan lahir dan batin serta mempertemukan dirinya dengan orang yang disebut sebagai Sayyidina Ali.

Setelah selesai mujasmedi, Galantrang Setra meninggalkan Pajajaran menuju Tanah Mekkah dengan membawa bekal secukupnya. Hatinya tak sabar lagi ingin bertemu Sayyidina Ali. Sepanjang perjalanan dia membayangkan pertarungan hebat antara dirinya dengan orang Mekkah tersebut. Terbesit juga dalam pikirannya bahwa akhirnya dialah yang menang. Dengan begitu maka dia akan dikenal sebagai pendekar pinunjul di seluruh jagat, bukan hanya di tanah Pasundan.

Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke tanah Arab. Yang pasti, sesampainya di tanah Mekkah, dia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah. Badannya tegap dan suaranya berwibawa. Kepada orang itu dia bertanya, “Apakah Anda kenal dengan Sayyidina Ali?”

“Oh, kenal sekali!” Jawabnya dengan ramah.

“Bisakah Anda mengantar saya ke rumahnya?” Tanya Galantrang sekali lagi.

“Oh bisa, tentu bisa!” Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka berdua melangkahkan kaki menuju rumah Sayyidina Ali. Semakin jauh melangkah detak jantung Galantrang Setra terasa makin cepat. Pertarungan tidak lama lagi terjadi, pikirnya. Baru saja beberapa puluh meter melangkah, tiba-tiba lelaki itu mengantarnya berhenti sambil menengok ke belakang. “Galantrang, tongkatku ketinggalan. Tolong ambilkan !” Katanya.

Galantrang menolak. Pantang baginya disuruh- suruh orang. Apalagi oleh orang Mekkah yang baru dia kenal.

“Kalau kamu tidak mau mengambilkan tongkatku, maka aku tidak akan mengantarmu ke tempat Sayyidina Ali,” ancam orang Mekkah itu.

Maka terpaksa Galantrang menuruti perintahnya. Tentu saja hatinya menggerutu. Ketika sampai di tempat yang dimaksud Galantrang mencabut tongkat itu dengan tangan kiri. Dikiranya ringan, karena tertancap ditumpukan pasir. Ternyata sulit dicabut. Kemudian dia mengambilnya dengan tangan kanan. Masih juga tak bisa dicabut. Akhirnya dengan kedua tangan. Aneh, sama sekali tongkat itu tak dapat digerakkan. Galantrang penasaran. Dicobanya sekali lagi dengan mengerahkan seluruh kekuatan lahir dan batinnya. Apa yang terjadi? Tongkat tetap tidak tercabut, malah kedua kakinya amblas terperosok ke dalam hamparan padang pasir. Tapi, sebagai jawara dia pantang menyerah. Namun, setelah sekian lama mengerahkan seluruh tenaga dan terus menerus membaca mantera, kakinya malah makin amblas. Bahkan, keluar darah dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Ketika itu, Galantrang tercengang melihat darahnya sendiri. Tiba-tiba orang Mekkah itu datang menghampiri. Dengan membaca Bismillahi dia mencabut tongkatnya dengan mudah. Bersamaan dengan itu, hilang pula darah di sekujur tubuh Galantrang. Sungguh sangat menakjubkan. Galantrang kagum pada kehebatan kalimah yang dibaca si pemilik tongkat. Dia ingin sekali hafal mantera tersebut untuk menambah kesaktiannya. Jika nanti bertarung dengan Sayyidina Ali, mantera itu akan dibacakan olehnya. Pasti dia menang, pikirnya. Maka dia minta diajari membacanya. Tapi orang Arab itu menolak mengajarinya, karena Galantrang belum masuk Islam. Mereka terus berjalan menuju rumah Sayyidina Ali

.

Di tengah perjalanan ada seorang bertanya, “Kenapa kamu terlambat pulang Ali?” Mendengar nama Ali disebut, Galantrang amat terkejut. Dia tak menduga sama sekali, bahwa orang yang sedang bersamanya adalah Sayyidina Ali. Mendadak muncul pikiran, bagaimana mungkin dirinya dapat mengalahkan Sayyidina Ali, sedangkan mencabut tongkatnya saja sampai berkeringat darah.

Rasa takut dan malu bercampur jadi satu. Keberanian Galantrang hilang sirna. Seluruh ilmu kanuragan yang selama ini jadi kebanggaannya lenyap seketika. Mungkin lebih baik pulang saja, pikirnya. Tak ada gunanya berlama-lama di Mekkah. Enggan baginya bertemu lagi dengan Sayyidina Ali.

Namun ketika dalam perjalanan pulang dia bingung tak tahu jalan. Langkah kakinya tak tentu arah. Seperti ada kekuatan yang menghalanginya pulang. Di sela-sela istirahat melepas lelah, dia teringat pada mantera yang diucapkan Sayyidina Ali. Betapa hebatnya mantera itu, pikirnya.

“Kau harus masuk Islam!” Suara ini terngiang- ngiang di telinganya. Ya, dia harus masuk Islam jika ingin diajari kalimah sakti itu. Padahal, selama ini, dia menganut agama Hindu, memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Bagaimana pula dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi, jika tahu dia meninggalkan agama leluhurnya? Akhirya dia memutuskan bersedia masuk Islam demi memiliki ilmu linuwih. Karena itu, dia kembali menemui Sayyidina Ali. Di sana dia dibimbing mengucapkan dua kalimah syahadat. Juga dibimbing mengucapkan basmallah, “Bismillahir rahmanir rahim”. Selain kalimah-kalimah tadi, banyak lagi kalimah-kalimah lain yang dia hafalkan selama dia mukim di Mekkah.

Konon, setelah dua puluh hari belajar agama Islam Galantrang Setra pulang ke Pajajaran. Setibanya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu dengan Sayyidina Ali hingga masuk Islam. Kini dia percaya kalimah Bismillah dan syahadat sangat hebat faedahnya. Karena itu dia berharap ayahandanya masuk Islam juga.

Mendengar kehebatan Sayyidina Ali, Prabu Siliwangi sangat kagum dan tidak keberatan anaknya, Raden Kian santang, memeluk Islam jika memang dia suka. Tapi, bagi dirinya tidak mungkin meninggalkan agama Hinda yang sejak puluhan tahun dianutnya. Betapa kecewa hati Kian santang karena ayahnya menolak masuk Islam. Padahal menurutnya, Islam-lah agama yang benar. Dengan susah payah, dia membujuk ayahnya. Tapi tiada hasilnya. Prabu Siliwangi tetap memuja dewa. Hal ini membuatnya sadar, bahwa pengetahuannya tentang Islam masih sedikit sekali dan belum memahami cara-cara dakwah. Akhirnya dia kembali ke Mekkah untuk belajar Islam lebih mendalam.

Setelah tujuh tahun bermukim di sana, Prabu Kian santang pulang lagi ke Pajajaran bersama dengan saudagar Arab. Saudagar itu bertujuan untuk berdagang di Pajajaran sambil membantu Kian santang menyebarkan Islam. Dengan bantuan para saudagar, Kian santang menyebarkan Islam di kalangan masyarakat. Rencananya dia juga akan menyebarkan Islam di kalangan istana, terutama mengislamkan ayahandanya. Prabu Siliwangi tahu akan kegiatan dakwah anaknya dan tidak keberatan rakyatnya masuk Islam. Tapi dia sendiri tidak mau ikut-ikutan. Baginya lebih baik meninggalkan keraton dari pada menuruti bujukan anaknya.

Maka ketika Prabu Kian santang dalam perjalanan menuju keraton, dengan kesaktiannya Prabu Siliwangi menyulap keraton menjadi hutan belantara. Kemudian dia dan para pengiringnya pergi meninggalkannya. Bukan main kagetnya Kian santang, ketika sampai di wilayah keraton Pajajaran. Tidak ada seorangpun terlihat di sana. Yang tampak baginya hanya pohon-pohon tinggi dan semak belukar. Padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, di sanalah keraton Pajajaran berdiri. Tapi, mengapa tiba-tiba lenyap dan kemana ayah dan semua pengiringnya? Sungguh membingungkan!

Kian santang bukan orang yang mudah putus asa. Dia terus mencari di mana ayahanda dan para pengiringnya bersembunyi sambil berdoa kepada Allah. Akhirnya dengan pertolongan Nya, dia melihat ayahanda dan pengiringnya keluar dari hutan. Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahnya, “Wahai Ayahanda, mengapa Ayahanda tinggal di hutan? Padahal Ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama yang dirihoi Allah.

” Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan puteranya. Malah dia balik bertanya, “Wahai Ananda, apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Ayahanda, yang pantas tinggal di hutan adalah harimau!” Jawab Kian santang. Konon, tiba-tiba Prabu Siliwangi dan semua pengiringnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau atau maung dalam Bahasa Sunda. Ingin sekali dia mencabut kata- katanya tersebut. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kata-katanya mustahil ditarik kembali. Kini ayahandanya dan orang-orang yang setia padanya tela berganti wujud menjadi harimau. Walaupun Prabu Siliwangi dan para pengikutnya telah berubah menjadi harimau, namun Kian Santang masih terus berbicara dengan santun pada mereka. Karena dia menganggap, mereka bukan harimau sesungguhnya, tapi hanya maung jejadian.

Tekadnya tetap bulat, ingin mengajak mereka masuk Islam. Namun, rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang jalan lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang, usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk kedalam goa yang kini terkenal dengan Goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di Kabupaten Garut.

Setelah tidak berhasil mengislamkan ayahnya, Kian santang pulang kembali ke keraton Pajajaran di Bogor. Dia biarkan ayah dan semua pengiringnya bersembunyi di Goa Sancang. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seseorang yang katanya sedang mencari-cari dirinya. Orang itu mengaku ingin masuk Islam. Tentu saja ini membuatnya sangat gembira. Ternyata ada orang yang dengan sukarela sudi masuk agama Allah. Maka dia pun membimbing orang asing itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Kian santang mengajarkan bahwa Islam itu sangat memperhatikan kebersihan. Bahkan kebersihan itu bagian dari iman. Karena itu, seorang muslim harus selalu membersihkan dirinya, baik kebersihan lahir maupun batin. Salah satu bagian tubuh yang harus dibersihkan adalah kemaluan. Jika kemaluan tidak bersih dari najis, maka tidak syah shalatnya. Sedangkan dzakar sulit dibersihkan karena ada kuncupnya. Supaya gampang dibersihkan, maka kuncupnya harus dibuang.

Akhirnya orang yang baru masuk Islam itupun mau dikhitan. Acara khitanan dilaksanakan secara sembunyi- sembunyi, tanpa resepsi dan yang mengkhitan pun Kian santang sendiri. Mungkin karena terlalu gembira dan belum banyak pengalaman, Kiansantang gugup ketika mengkhitan, sehingga bukan hanya kuncupnya yang terpotong, tapi juga batang dzakarnya. Akibatnya orang itu mati. Mungkin karena kehabisan darah.

Pada tahun 1400 M, Prabu Kian santang diangkat menjadi raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati (Prabu Anapakem I). Ketika itu, usianya delapan puluh lima tahun. Namun tidak lama kemudian, dia melepaskan jabatannya. Tahta kerajaan dia serahkan pada Prabu Panatayuda, putera sulung Munding Kawati. Memang, sejak dulu Kian santang kurang tertarik dengan jabatan dan kekuasaan. Awalnya memang dia mendalami berbagai ilmu kanuragan. Tentu saja ini ada hubungannya dengan kekuasaan. Sebab, jika ingin berkuasa waktu itu, orang harus sakti. Namun setelah bertemu dengan Sayidina Ali, dia lebih suka mendalami agama Islam dan menyebarkannya ke seluruh penjuru tanah Pasundan. Apalagi kini usianya sudah lanjut.

Seperti sufi pada umumnya, fase perjalanan hidup diakhiri dengan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Konsentrasi pikiran hanya tertuju pada Nya. Dia hindari segala perkara yang dapat memalingkan hati pada selain Yang Di Atas. Untuk itu dia memilih uzlah, menjauhi keramaian dan gemerlap kehidupan istana. Dikisahkan, seusai serah terima jabatan, Kiansantang pergi mencari tempat sepi dengan membawa sebuah peti. Mula-mula pergi menuju Gunung Ciremai yang cukup tinggi dan hawanya sangat dingin. Setelah sampai di sana, peti itu diletakkan di atas tanah. Ternyata si peti diam saja, tidak godeg (bergoyang). Ini tanda bahwa tempat itu tidak cocok untuk dihuni. Kemudian, Kian santang meninggalkan tempat itu dan pergi ke arah barat menuju Tasikmalaya. Sesampainya di sebuah gunung, dia letakkan lagi peti tersebut. Ternyata si peti diam juga, tidak memberi isyarat bagus. Maka tempat itu pun dia tinggalkan. Akhirnya, dia kembali pergi menuju arah utara, ke wilayah Garut. Ketika sampai di sebuah gunung, diletakkanlah peti petunjuk itu di atas tanah. Tiba-tiba si peti godeg alias bergoyang- goyang. Ini pertanda tempat itu baik untuk dihuni. Maka disitulah Kian santang tinggal hingga wafatnya setelah bertafakur selama sembilan belas tahun.

Kian santang wafat tahun 1419, dalam usia seratus enam tahun dan dimakamkan di sana. Kini tempat itu terkenal sebagai Makam Keramat Godog atau Makam Sunan Rohmat Suci. Sekitar satu kilo meter dari tempat ini berdirilah Masjid Pusaka Keramat Godog yang konon dibangun Kian santang semasa uzlah. Dua tempat itu menjadi bukti adanya wali yang berasal dari keluarga raja Pajajaran. Mengenai tokoh yang disebutkan sebagai Sayidina Ali dalam cerita ini, memang sedikit kontroversial.

Mengingat kejadian, apakah mungkin yang dimaksud Sayidina Ali di sini adalah Ali Bin Abi Tholib RA, khalifah keempat dalam jajaran Khulafaur Rasyidin? Ataukah yang dimaksudkan adalah tokoh Sayidina Ali yang lain, mengingat angka tahun kejadian yang terpaut sangat jauh dengan masa kehidupan Sayidina Ali Bin Abi Tholib RA? Wallahu’alam.

Wassalamu alaikum wr.wb

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

41 tanggapan untuk "Kisah Kian Santang"

Agus Hambali pada 22:32, 12-Mei-13

Cuma mau nitip Link down-arrow

Visit: http://agushambali.mywapblog.com/

Aries pada 22:32, 12-Mei-13

Lupa, Sumber : Wikipedia

http://pertamax.mywapblog.com/kisah-kian-santang.xhtml

ISTIHZA pada 22:38, 12-Mei-13

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Met malem Brader, sori nih Baru bisa hadir di Update terbaru Anda. Maklum New Bie Lagi Sibuk, Urusan di DuTa, oiya makasih telah hadir di blog kita.

ISTIHZA' : Bahaya Istihza' (Bagian 1)
http://istihza.mywapblog.com/istihza-bahaya-istihza-bagian-1.xhtml

Kita dah Follow BlogMu, Jangan Lupa Main Ke Blogku Yang makin sepi saja nih! biggrin

angthienyang pada 23:01, 12-Mei-13

nah ini ada sedikit kesalahan,memang islam bisa terhitung besar pengikutnya,namun disini saya mau mengatakan,jika seandainya semua agama digabung menjadi 1,apakah tidak sama rasa dan juga sama jiwa,mengapa saya mengatakan begitu,jika seseorang yang benar-benar udah dalam tentang agama,pasti mengerti benar tentang agama,sebab mengapa,karena semua agama yang ada didunia ini semuanya bersifat sama,yaitu mengajarkan hal yang baik untuk umatnya,hanya saja ada sebagian yang salah menganggapnya sebagai ajaran yang gak benar,padahal sama-sama agama yang berusaha mengajarkan segala peraturan-peraturan tentang agama dan kebaikan untuk seluruh umat,tanpa membeda-bedakan agama,hanya manusia sajalah yang salah mengambil tondakan dan salah pengertiannya,hanya ini saja komentarku,terima kasih

Aries pada 23:18, 12-Mei-13

@angthienyang,
Iya benar semua agama memang mengajak untuk kebenaran, dari jaman jahiliyah yang sesat menyembah batu dan patung dan lambat laun para nabi dan rasul mendapatkan wahyu berupa kitab, mulai dari kitab zabur, taurat , injil dan yang terakhir adalah al-qur'an dan menurut penelitian semua kitab itu mengajarkan kebenaran dan memberitahukan ancaman dan kegembiraan akan datangnya nabi setelah nabi ini. Jadi semua ini udah di atur ama yang di atas

Drew SiGemini pada 23:33, 12-Mei-13

Udah beres bacanya ris..uh cuapek..tp si bapak nya jd maung yah..

Rafly BWM pada 01:19, 13-Mei-13

kisahnya menarik jga nie.

Bagusimple pada 05:03, 13-Mei-13

wah mantappp sob critanya..
yerimakasihh udah berbagi.. smile


down-arrow
http://simplez.heck.in/

XtReaM pada 05:19, 13-Mei-13

wahaha biggrin ini yang sering ane tonton neehh

xtream.heck.in/tutorial-cara-mengintipmelihat-pageview.xhtml

Muhammad Rifaldi Sofyanur pada 05:28, 13-Mei-13

hehoheho, lumayan bacanya . Tapi seru.

http://rifaldirailfans.mywapblog.com/5-pesan-tanah-untuk-manusia.xhtml

Iful Famour Man pada 06:05, 13-Mei-13

Selamat pagi sahabat Nusantara dan moga dalam keadaan sehat selalu maaf baru bisa berkunjung....

Jangan lupa kunjungan balik dan bila belum di follow blog aku follow back ya...


http://handiljawa.mywapblog.com

Fadhil LPST pada 06:16, 13-Mei-13

saya kira itu cuman fiksi..

http://dhilzlp.heck.in/tema-sasuke-eternal-stripe-by-fm.xhtml

Arsana pada 06:52, 13-Mei-13

Hadir B O U Zz,,,,nice post
makin sukses blog'nya

Fauzie Mobile Games pada 07:42, 13-Mei-13

Hadir Bos…

KUNBAL Nya Di Tunggu… wink

right-arrow http://fauzhie-rayda.mywapblog.com/download-game-g-i-joe-the-rise-of-cobra-2.xhtml

semrawut pada 08:32, 13-Mei-13

Sob tolong bantu kasih review blog saya di alexa dong sob,
ntar ane bales deh...
Isi aja kolom komenya dengan home page blog kamu

Mediana Saputra pada 10:37, 13-Mei-13

capek juga ane baca sob..
jangan lupa mampir di blog ane..

Mario Sharapoviç pada 10:44, 13-Mei-13

wah ane baru atau kalo kian santang ternyata asal bogor!

Antony Stark pada 11:08, 13-Mei-13

Wah cerita yg bagus nie , nice post kawan,

mampir N folow ya pasti folback

Yudhistira pada 11:43, 13-Mei-13

baru tau ane smile

Fajar Sidik Romadhon pada 12:02, 13-Mei-13

Huhuhu, yang mau saya tanyakan sudah ada diatas, yasudah ngga jadi, hehehe cheesy-grin tentang sayyidina ali

tapi masih penasaran juga

Gagerz maniac pada 13:21, 13-Mei-13

wah cerita yang mantap dah ane baru baca,thanks ya dah share

Kim Herdin pada 13:41, 13-Mei-13

film yang ada di mnc tv ya

Nurul Huda pada 13:42, 13-Mei-13

Horee... Telat biggrin

heem, dek alwi itu ries.. Trmasuk Sinetron favorit biggrin

Révý ÇhèÞótÐz pada 13:42, 13-Mei-13

ceritanya menarik sob, sampe jari tangan ane pegel nih, tapi gpp ceritanya bagus, lebih ke AGAMA dari pada perang

Wapnet Mobile Blog pada 15:53, 13-Mei-13

Ternyata film kian santang diambil dr kisah nyata ya

Rahmat Diyan pada 17:24, 13-Mei-13

Ceritanya lengkap
ane mau lanjutin baca dulu ya

Fajar pada 17:36, 13-Mei-13

hadir yaa gan,,,,,,,,,,,,,

Bholick khoenhts pada 18:31, 13-Mei-13

Gak suka kian santang sob..

New post
http://bholik20.mywapblog.com/kumpulan-kode-html-dasar-tutorial-mywapb.xhtml

EighaNamikaze pada 19:38, 13-Mei-13

mantap biggrin

Lee Young Ah pada 20:32, 13-Mei-13

maap telat b0y.. Hehe. Sip. Tak pelajari dsek biggrin

The Kancut Kidz pada 22:54, 13-Mei-13

Astaga min,,,,baru tau saya kalo kian santang yang juga muncul di TV itu analah putra prabu siliwangi. sari cerita di atas, saya juga baru tahu bagaimana prabu siliwangi menjadi harimau yang sampai sekarang masih menjadi topik pembicaraan di kalangan orang2 pintar.
Mantap min

Anthony Ok pada 07:54, 14-Mei-13

Nice kisah sob

Zetsu pada 09:57, 14-Mei-13

Santang kclx ckep apa lg gedenya yaa

Aries pada 17:22, 15-Mei-13

Drew SiGemini@ iya bener kang smile

Rafly BWM@ hehe iya sob emang seru

Bagusimple@ sama sama

XtReaMSama sob biggrin

Muhammad Rifaldi Sofyanur@hehehe panjang

Aries pada 17:25, 15-Mei-13

Iful Famour Man@ meluncur

Fadhil LPST@ yang fiksi itu brama kumbara

Arsana@ terimakasih

Fauzie Mobile Games@ sip

semrawut@ oke sob

Mediana Saputra@oke sob

Mario Sharapoviç@jiahahaha baru tau

Aries pada 17:34, 15-Mei-13

Antony Stark@ oke sob meluncur

Yudhistira@ Hehehe tempe kang

Fajar Sidik Romadhon@ sayidina ali yang lain biggrin

Gagerz maniac@ sama sama sob

Aries pada 17:57, 15-Mei-13

Kim Herdin@ iya sob :.)

Nurul Huda@ hehe dari pd beka

Révý ÇhèÞótÐz@ iya sob smile

Wapnet Mobile Blog@ iya sob smile

Rahmat Diyan@ silahkan sob smile

Aries pada 18:08, 15-Mei-13

Fajar@ sip

Bholick khoenhts@ kenapa???

EighaNamikaze@dalang kali ya?

Lee Young Ah@ maaf saya bkn playboy

Aries pada 18:10, 15-Mei-13

The Kancut Kidz@hehehe iya sob smile

Anthony Ok@ makasih sob

Zetsu@hehehe

datakoe pada 10:47, 16-Mei-13

capek bacanya tp menarik tp bpknya kok jd harimau ,sedang di tpi kagak jd 2 malah muter2 aja mbuleti

Ajis pada 23:35, 27-Peb-14

Nyimak aja sob..

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar